anandaleaa

Gorden jendela ruang rawat Keenan tersingkap, menjadikan lampu luar dan lampu dari gedung-gedung di seberang sebagai satu-satunya sumber cahaya di ruangan ini.

Aku menarik selimut lebih tinggi, menutupi badanku dan badan Keenan sampai sebatas dada. Seringai miring muncul di wajahnya ketika memperhatikanku merapikan selimut, kemudian bergerak perlahan untuk merapatkan diri padaku.

“Lampunya biarin mati aja, ya? Gak takut, kan?”

Aku mendesis. “Emangnya gue anak kecil apa?”

Ia mengangguk. “Pintu udah dikunci?” tanyanya lagi, tatapannya yang nakal tiba-tiba membuatku beringsut mundur.

“Kenapa harus dikunci?”

“Ntar ada orang yang masuk gimana?”

“Emang kenapa? Kita kan cuma bobo bareng.” Kedua alisku bertaut, heran kenapa Keenan terlihat mencurigakan, padahal kami sudah melakukan kegiatan ini sejak kecil dan tidak pernah keluar batas.

Lagi, seringai itu kembali muncul, matanya mengerling jahil. “Oh, cuma mau bobo bareng, ya? Tapi kan gak ada Keana sama Dika, berarti bisa lebih harusnya.”

Aku membulatkan mata. “Kacau otak lo abis operasi jadi begini? Otak lo ketukar apa? Gila, ngeri abis gue pulang aja, ah!”

“Jangan, dong.” Keenan langsung merengek dengan kedua tangannya yang melingkar di badanku, menahanku agar tidak menjauh. “Kalau lo ninggalin gue lagi, gue bakal benar-benar pergi dari hidup lo. Mau?”

“Nggak….”

“Makanya, diam aja.” Keenan kalau ngancam seram juga, ya. “Jangan pernah berpikir buat ninggalin gue, lo udah punya gue, gak ada penolakan.”

Aku tersenyum, lalu memainkan jari-jariku di kepala botaknya. Ah, aku tidak sabar akan menyaksikan bagaimana rambutnya tumbuh dan mulai panjang.

Aku juga tidak sabar untuk melihatnya bisa bermain bola lagi. Aku ingin ada di sana, menyorakinya ketika mencetak gol, memberinya minuman dingin, menontonnya merayakan kemenangan bersama timnya di tengah lapangan.

Aku ingin ada di sana, menemaninya membaca buku-buku hukum di perpustakaan, memperhatikan dahinya yang senantiasa berkerut ketika mengerjakan soal-soal tes masuk universitas, lalu jadi orang pertama yang mendapat berita baik tentang kelolosannya.

Aku ingin melakukan itu semua, seperti yang seharusnya kulakukan sejak dulu.

“Kak Dimitri benar, ya. Orang-orang yang ditakdirkan hadir dalam hidup kita, sejauh apapun mereka pergi—”

“Mereka selalu punya jalan buat kembali,” Keenan menyambung kalimatku, lalu seulas senyum yang begitu lembut melintasi wajahnya. “Lo tau? Bagian ironisnya adalah, Kak Dimitri, orang yang bisa dibilang merebut lo dari gue malah jadi orang yang bikin gue pengen bertahan buat lo.”

Aku lantas mengernyit. “Kok gitu?”

“Sebelum gue pergi ke Singapura, gue nemuin dia. Dia bilang sama gue buat jangan menyerah, jangan sampai gue nyesal karena udah ninggalin orang-orang yang sayang sama gue.” Keenan mengusap dahiku, senyumnya penuh arti. “Kalimat itu yang selalu gue ingat selama di ruang operasi.”

Tatapanku jatuh di kedua matanya yang berbinar-binar. Di titik ini, aku salut pada dunia, pada caranya memutarkan kebaikan. Faktanya, kalimat itu adalah kalimat yang kuucapkan pada Kak Gladys—ketika aku menemukannya tengah sibuk menggoreskan sebuah silet di salah satu pergelangan tangannya.

Semesta memang selalu memiliki caranya sendiri dalam membahagiakan seseorang. Dan bagiku, kebahagiaan itu sesederhana menyadari bahwa keberadaanku mampu mengisi ruang yang rumpang dalam hidup orang lain.

“Anyway, surat buat gue mana? Lo bilang di chat lo balas surat gue?” Pertanyaan Keenan membuatku mengerjap seketika, lalu tersenyum kikuk, sadar bahwa surat yang kutulis untuknya agak sedikit menggelikan.

“Oh? Gak usah di baca, deh.”

“Enak aja. Mana? Nih, pemiliknya udah di sini, mau gue baca.”

Aku tergelak. “Gak usah! Malu tau?!”

“Kok malu?” Kedua alisnya bertaut. “Hayo, nulis apa emang?”

“Apa aja boleh!” jawabku seraya menjulurkan lidah meledek, membuat Keenan ikut tertawa.

“Pasti nulis tentang betapa sayangnya lo ke gue, kan?”

“Iwh, kepedean banget. Tapi, emangnya kalau iya kenapa?” Keenan tak lagi menjawab, tangannya bergerak untuk mengusap pipiku dengan lembut, kemudian mendekatkan wajahnya perlahan. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi detik di mana bibirnya menyentuh keningku, adalah detik di mana aku merasa begitu berarti.

“Gue sayang lo,” bisiknya. Tatapan matanya yang sayu membuatku panas dingin, sorot matanya begitu dalam seperti blackhole, menarik semua kewarasanku yang tersisa.

“Gue lebih,” balasku, lalu senyum yang teramat hangat itu kembali terukir. Dapat kurasakan tangannya mengeratkan pelukan kami seiring dengan matanya yang mulai terpejam. Malam ini, aku akan selalu mengingat malam ini sebagai salah satu malam paling indah dalam hidup.

Terimakasih, Keenan….

Untuk menjadi teman hidup, untuk menjadi seseorang yang membuatku merasa berarti telah dilahirkan ke bumi.

[HANA]

Berbekal pesan dari Ardika yang menyusul balasan Keenan, dengan perasaan tak karuan kutinggalkan segala ragu dan takut yang menjelma menjadi satu, menyeret serta Kak Gladys untuk mengantarku ke rumah sakit tempat Keenan di rawat dulu.

Melewati kemacetan ibukota dan setengah jam kemudian, aku tiba di sana, mematung di depan pintu salah satu ruang rawat yang tengah terbuka.

Berat. Kakiku berat untuk melangkah, seolah keduanya sudah menyatu dengan lantai. Aku membekap mulut yang hampir ingin berteriak ketika menyadari di dalam sana, sosok yang memunggungiku itu tengah terkekeh-kekeh di atas ranjangnya.

Ia kembali. Ia… sungguh kembali.

Ardika dan Keana yang lebih dulu menyadari kedatanganku lalu melambaikan tangan, membuat Keenan lantas menoleh. Sejurus kemudian, mata kami berpandangan, dan begitu senyumnya melengkung, pertahananku runtuh seluruhnya.

Aku terisak.

Jahat.

Dasar lelaki jahat!

“Heh, kok nangis?” tanyanya tanpa rasa berdosa. Tangannya terbuka, memberiku tanda untuk mendekat.

“Lo… beneran Keenan?”

Ia tertawa semakin lebar. “Bukan. Pangeran William.”

“Jangan bercanda!” sentakku sembari menangis sejadi-jadinya. Keenan terperangah sesaat, namun senyumnya kembali melengkung ketika akhirnya ia meraih tanganku dan menggenggamnya erat.

“Kenapa nangis, hm?” Sorot matanya melembut, mengusap air mata yang terus berjatuhan membasahi pipiku. Sementara itu, sebelah tangannya yang lain melingkar di pinggang, membawaku ke dalam pelukannya perlahan. Begitu merasakan dekapannya, aku menutup mata, tersedu di sana, teringat segala perlakuan burukku padanya dan berpikir kalau aku mungkin tak memiliki kesempatan memperbaiki segalanya.

Namun, di sinilah kami detik ini.

Keenan mengusap belakang kepalaku pelan, hela napasnya teratur, sesekali dapat kurasakan tubuhnya bergetar karena menertawakan tingkahku sekarang.

“Kangen, ya?”

Pertanyaan bodoh.

Aku mengangguk, sibuk menetralkan napas yang masih tersengal. Ia berbisik di telingaku. “Pake banget gak?” tanyanya.

“Iya, pake banget yang banyak.”

“Kasih tau jangan?” bisiknya lagi, kali ini sorot matanya nampak jahil.

“Apa?”

“Gue juga kangen. Pake banget yang banyak.”

Senyumku segera mengembang mendengar kalimatnya itu. Aku melepas pelukan, lalu mengamati sosok laki-laki yang amat kurindukan ini. Selain kepalanya yang botak dan berat badannya yang turun, kurasa Keenan tak banyak berubah. Ia masih Keenan yang sama, Keenan yang memiliki sorot mata secerah matahari pagi, Keenan yang senyumnya sehangat bulan Juli.

“Kepala lo botak,” ucapku sembari melarikan jari-jari di atas kulit kepalanya yang sudah kembali ditumbuhi tambut-rambut kecil, panjangnya kurang dari satu senti. Jika mengusap lebih ke belakang, ada luka bekas jahitan yang belum sepenuhnya sembuh. Kupandangi ia sekali lagi, membayangkan bagaimana hari-harinya selama ini.

Syukurlah, syukurlah Keenan baik-baik saja.

“Kenapa? Gak jadi kangen kalau gue botak? Gue balik aja ya ke Singapura?” Ia pura-pura memberengut.

“Jangan….” Aku merengek, memeluk tangannya seperti seorang anak kecil.

“Ekhem!” Itu suara batuk Ardika. “Mesra amat, dunia berasa milik berdua, ya? Hehe, iya, gue sama Keana mah ngekos,” lanjutnya, menaruh tangan di sekitar leher Keana, sementara Keana menggerutu sendiri dirangkul secara tiba-tiba seperti itu.

Keenan tertawa, sedikit terperangah melihat kemesraan Ardika dan Keana—sudah kubilang, mereka berdua seperti orang pacaran.

Entahlah kapan sebenarnya ini semua di mulai, sejak Keenan hilang, kurasa aku banyak melewatkan momen dalam hidupku, salah satunya adalah hubungan mereka.

“K, gak kangen gue?” Keenan melayangkan tatapan jahil pada Keana. “Gak mau peluk gue juga?”

Keana yang tengah sibuk dengan televisi di langsung membulatkan matanya. “Hah? Apa-apaan lo?”

Keenan melebarkan senyumnya, kemudian merentangkan tangannya kembali, seperti meminta peluk. “Peluk dong? Katanya suka sama gue?”

Giliranku yang membulatkan mata. Apa? Apa tadi, katanya?

“Keenan abis dioperasi kok jadi kayak tayi, ya?” Keana mendelik, membuat Keenan puas tertawa. Aku dan Ardika saling pandang, bingung sendiri.

“Terus aja terus… masih gue pantau, bentar lagi gue sedot ubun-ubunnya sampe penyok,” decak Ardika, yang kubalas dengan anggukan sengit seraya melipat tangan di depan dada.

Aku ingin bertanya tentang maksud kalimat Keenan sebelumnya dan tentang apa saja yang terjadi tanpa kuketahui, tapi melihat ketiga orang ini, saat ini, detik ini, aku merasa aku tak perlu mengkonfirmasi atas apapun. Selamanya, pada merekalah kutemukan tempat yang bisa disebut rumah. Selamanya, pada merekalah kutemukan arti bahagia yang sesungguhnya.

Ardika dan Keana melanjutkan perdebatan mereka yang melibatkan perang bantal serta lemparan bungkus makanan di mana-mana, membuatku dan Keenan tergelak seolah sedang menonton sirkus gratis.

Kemudian, Keenan menarikku kian dekat, mendudukkanku di sisi ranjang—tepat di sebelahnya. Kami berbagi tatap, suara debat Ardika dan Keana masih memenuhi ruangan, tapi satu-satunya suara yang kami dengar justru ungkapan isi hati masing-masing.

Aku menghela napas sembari menarik senyum, mengusap pipinya yang lebih tirus dari yang terakhir kuingat. “Makasih udah pulang.”

“Makasih juga udah nunggu,” jawabnya pelan.

Ah, Keenan….

Andai aku tahu sejak dulu kalau mencintainya semenyenangkan ini, aku rasa aku tak akan ada waktu untuk jatuh cinta pada orang lain yang belum tentu bisa mencintaiku sehebat dirinya.

Semesta, aku sayang Keenan.

Aku cinta dia, pakai banget yang banyak hahahaha.

[DIMITRI]

Keenan ternyata benar-benar pergi beberapa hari kemudian.

Sejak dia menghubungi gue lewat chat malam itu, gue meminta Tio buat mengawasi Hana. Iya, gue rupanya masih gak bisa buat gak peduli. Dan kabar dari Tio itulah yang bikin gue sampai di koridor rumah sakit ini, memandangi Hana yang tengah menangis dari kejauhan.

Melihatnya hancur begitu, gue ingin berlari dan membawa dia dalam peluk gue, tapi gue jelas tahu gue gak seharusnya melakukan itu.

Gue diam di sana selama beberapa jenak, terduduk di salah satu kursi, menjadi satu-satunya orang yang menghuni ruang tunggu. Sampai kemudian, suara seorang perempuan membuat gue menoleh.

“Lo ngapain di sini?” tanyanya bingung.

“Lo sendiri ngapain?” Gue balas gak kalah skeptis. Setau gue, Gladys bukan kakak yang baik buat Hana, gue heran aja ternyata dia peduli. “Gue ke sini karena seseorang nitipin Hana sama gue, itu aja,” gumam gue sembari mengedikkan bahu karena Gladys masih tampak penasaran. Dia lalu mendengus, dan duduk berjarak dua kursi dari tempat gue.

“Really?” Gladys ketawa pelan, tapi tawanya kedengaran mengerikan karena bergema di koridor. “Liar!”

Gue tatap dia sinis. “Please, gak usah mancing keributan.”

Dia masih terkekeh, entah buat apa. “Gue kira lo sama Hana bakal longlast,” katanya, lama mengenal Gladys, gue bisa membedakan mana kalimatnya yang sarkas dan tulus semudah membalikkan tangan. Dan kali ini dia kedengaran tulus mengucapkan itu. “Gak usah tersanjung, sama kayak lo yang masih mau mastiin Hana baik-baik aja, kurang lebih gue juga begitu.”

“Lo sayang Hana?”

“Gue sayang lo, tolol.”

Giliran gue yang ketawa. “Gue emang sayang-able.”

Gladys gak memprotes kalimat gue dan sibuk memandang ke depan, ke salah satu pintu ruang rawat yang tertutup.

“Lo tau? Gue mencintai lo di titik-titik terendah dan tergelap lo, Dim. Gue mencintai lo tanpa pengharapan apakah lo baik atau buruk untuk gue. Gue mencintai lo hanya karena itu lo, karena lo pantas dicintai dengan baik atau buruknya lo, karena cuma lo manusia yang paling mudah sekaligus paling sulit buat dicintai.”

Suaranya pelan, tapi justru terdengar begitu keras di tempurung kepala gue. Gue bersandar di kursi, kehabisan kata-kata buat membalas kalimat Gladys. Tengah malam, rumah sakit benar-benar lengang, dan di antara keheningan yang mencekam itu, gue dan Gladys kemudian larut dalam pikiran masing-masing.

Setelah jeda yang cukup lama, dia menarik napas lagi. “Lo itu paradoks. Mencintai lo berarti meninggalkan lo sendiri, karena lo selalu membuat garis di mana orang-orang yang mencintai lo mulai ragu, lo terlalu membentengi diri—seolah semua orang gak pernah ada yang benar-benar berarti buat lo. Dan di titik tertentu, pergi jadi satu-satunya hal terbaik supaya cinta ini gak berubah jadi benci.”

“Gimana gue gak membentengi diri sendiri kalau selama ini yang gue dapat gak pernah setimpal sama apa yang gue beri?” Gue gak pernah menyangka tawa yang mengakhiri pertanyaan gue bisa segetir itu.

Yang gue tahu, gue harus selalu kelihatan senang—baik-baik aja, seperti pilar yang kokoh. Jadi, setiap kali ada sesuatu yang melukai gue, gue sering menghiraukan hal tersebut, seolah itu gak mampu menyakiti gue. Rupanya, Gladys menyimpulkannya dengan cara lain.

“Lain kali, lo harus lebih tulus ngelakuin sesuatu. Gue, Hana… bukannya kita berdua udah cukup buat jadi bukti?” Gladys menoleh, tatapannya jatuh tepat di mata gue. “If someone really that matter in your life, and she give a sign that she’s enough and wanna leave, you should fight for her to stay, aren’t you?”

Gue balas tatapannya, tapi gue gak mampu balas pertanyaannya. Bukan, bukan karena gue gak tahu harus menjawab apa, tapi justru karena gue tahu, dan gue merasa ditinju keras-keras.

Terkadang gue harap gue bisa melakukan itu, memperjuangkan Gladys sewaktu dia tiba-tiba pergi, memperjuangkan Hana sewaktu dia memutuskan buat pergi juga, tapi bahkan gue gak berusaha melakukannya karena gue gak percaya diri. Mereka melepaskan gue seakan gue memang gak layak dipertahankan, apa yang bisa gue harapkan lagi jika begitu adanya?

“Lo harus belajar mencintai diri lo sendiri, jauh lebih dulu sebelum lo mencintai orang lain. Jadi begitu mereka mau pergi, lo bisa merjuangin mereka karena lo tau lo udah ngasih yang terbaik—alih-alih membiarkan mereka pergi begitu aja dan berujung ngerasa kalau lo gak pantas dicintai.”

Sepertinya, exchange memang mengubah Gladys dari seorang perempuan cengeng semi pemarah yang selalu berpikir kalau semua orang di sekitarnya menyebalkan, jadi seorang wanita dewasa yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Dia kelihatan kayak orang yang udah berdamai sama dirinya sendiri.

Senyum gue tertarik begitu pandangan kita mengunci satu sama lain, gue rasa… itu bukan karena exchange.

Jadi benar, ya? Kalau patah hati bisa mengubah seseorang.

Obrolan gue dan Gladys berakhir di situ, ketika malam beranjak semakin larut dan ia berpamitan lebih dulu karena harus membawa Hana kembali ke rumah. Dari jauh, gue amati keduanya yang berjalan bersebelahan selama menuju tempat parkir, dan meski gue gak dengar apa yang Gladys bicarakan pada Hana, gue tahu apapun itu, pasti sesuatu yang baik.

Gue mungkin gak bisa menjaga Hana seperti yang ingin gue lakukan atau seperti yang Keenan harapkan, tapi bisa memastikan kalau Hana gak sendirian udah lebih dari cukup buat gue—suatu pencapaian, karena gue gak biasanya merasa bahagia untuk hal-hal yang bukan gue alasannya.

Lagi-lagi, ternyata benar ya, patah hati bisa mengubah seseorang.

Dan seperti Gladys, gue harap gue bisa segera berdamai dengan diri sendiri.

[HANA]

Aku tidak pernah berpikir, Keenan meninggalkanku dengan cara seperti ini.

Kak Gladys di sampingku mengemudi seraya menguap beberapa kali, terlalu malas untuk menghiburku yang sedang menangis—atau justru ia memang tidak peduli—tapi ada sesuatu dari bahasa tubuhnya yang mengindikasikan kegugupan, sesuatu yang kini menjadi atmosfer di dalam mobil.

Tumpukan pesan dan belasan telepon yang tidak terjawab memenuhi ponsel yang kugenggam erat-erat, chat dari Ardika dan Keana tak mampu kubalas, hanya bait-bait kata tentang kepergian Keenan yang terus menerus berputar di kepalaku, terlalu rumit sampai kurasa seluruh tubuhku menggigil karenanya.

Tahukah kalian bagaimana rasanya dunia kalian hancur hanya dalam satu malam? Seperti tersesat dalam negeri antah berantah, dan kalian tak bisa menemukan diri sendiri dalam kekacauannya?

Karena itulah yang sedang kurasakan saat ini, detik ini.

Kedua kakiku bergetar, seolah bumi yang kupijak akan segera runtuh. Di lorong rumah sakit yang sunyi itu, Ardika dan Keana terduduk lemas di kursi tunggu. Aku berjalan dengan perasaan gamang sembari menghampiri mereka, sekuat tenaga untuk tidak panik.

Namun usahaku gagal ketika menoleh ke satu sisi, pintu ruang rawat Keenan terbuka lebar, ada petugas yang sedang membersihkan ruangan itu.

Seketika aku tahu, aku terlambat.

“Keenan mana?” Aku dapat mendengar suaraku sendiri, mungkin karena suaraku yang tiba-tiba serak, atau karena orang-orang di sini terdiam, entahlah. Keana menunduk, beberapa detik berlalu dan tidak ada jawaban atas pertanyaanku selain isak tangisnya yang pilu.

“Keenan mana?” aku membeo, seperti orang bodoh. Saat itu, sorot mata yang Keana layangkan padaku nampak begitu sedih. Ketika kuperhatikan, kedua tangannya yang terkepal di atas lutut bergetar.

Kutatap Ardika yang kini bangkit menghadapku, tapi tatapannya tidak kupahami, atau mungkin aku paham tapi aku tidak mau mengakui itu.

Tolong, tolong siapapun bilang padaku bahwa aku salah.

“Keenan mana!” jeritku, menarik-narik lengan Ardika dengan membabi buta. Jika mereka menjahiliku lagi, aku bersumpah aku tidak apa-apa. Jika ini semua mereka lakukan karena ingin menertawakan reaksi konyolku, aku sungguh tidak apa-apa asalkan Keenan tidak pernah ke mana-mana.

Namun, bukan seulas senyuman jenaka, bukan juga getar tawa yang kudapat, melainkan sebuah pelukan. Aku mematung, tapi begitu Ardika mengusap punggungku pelan, dapat kurasakan satu per satu tembok pertahanan diri yang kubangun runtuh begitu saja, meninggalkan seonggok jiwa tanpa cangkang—yang rapuh, yang penuh luka, yang ketakukan setengah mati.

Dalam beberapa detik, aku memejamkan mata saat pelukan itu berlangsung. Pelukan yang hangat, yang seperti bermaksud untuk membagi kekuatan. Sewaktu akhirnya membuka mata, pikiran tentang kehilangan itu telah berhasil menghujam jantungku, melumpuhkan seluruh sarafku.

Keenan pergi. Keenan benar-benar pergi meninggalkanku tanpa pamit.

“Keenan dibawa ke Singapura, dia bakal baik-baik aja di sana,” bisik Ardika berusaha meredamkan tangisku.

Tapi, kenapa Keenan melakukan ini padaku? Kenapa hanya aku yang tidak tahu tentang kapan ia akan pergi? Aku bahkan tidak bisa menemuinya akhir-akhir ini, aku tidak pernah diberi kesempatan untuk bilang bahwa aku akan selalu menunggu kesembuhannya di sini.

“Keenan bakal baik-baik aja, dan kalaupun nggak, dia mau kita ngelanjutin hidup kayak biasa.”

Pembohong!

Bagaimana mungkin aku melanjutkan hidup seperti biasa ketika aku kehilangan separuh hidupku yang lain? Bagaimana mungkin, Keenan sengaja menghindariku hanya karena tahu ia akan pergi tapi tidak bisa memastikan kapan ia akan kembali?

Ardika melepaskan pelukannya, lalu meletakkan kedua tangan di bahuku. Ketika aku menaikkan pandangan untuk menatapnya, sisa-sisa air yang belum mengering masih ada di pelupuk matanya, memerah, menunjukkan luka menganga di baliknya

“Keenan bakal pulang, kan?” tanyaku, padahal aku sadar baik Ardika dan Keana, kami sama-sama tidak tahu jawaban untuk pertanyaan yang satu itu. Tapi aku tetap melakukannya, agar menjadi kuat, agar menjadi berani.

“Keenan bakal pulang,” balas Ardika, lebih kepada dirinya sendiri. “Dia harus pulang, Na.”

Kemudian, secarik amplop berwarna kecoklatan disodorkannya padaku, yang kutatap dengan sinis. Hati kecilku berkata aku tak boleh menerimanya, sebab apapun yang tertulis di dalam sana, aku tahu itu cara Keenan mengucapkan selamat tinggal.

Aku tidak mau, aku tidak ingin ada perpisahan.

Namun, melihat amplop sederhana itu, aku seperti melihat Keenan sendiri. Bagaimana ia menuliskannya, kapan, dan kenapa? Semua pertanyaan itu mendorongku untuk menerima surat tersebut, lalu menyadari bahwa Keana menggenggam amplop yang serupa.

Tenggorokanku sakit, dadaku sesak—seperti dihujam ribuan jarum—perih.

Aku kembali terisak dalam diam. Rupanya, Keenan telah menyiapkan semuanya.

Dan dengan caranya sendiri, ia telah berpamitan.

[HANA]

Keesokan harinya, selama menunggu pergantian kelas yang kuhabiskan di kantin fakultas, Keana dan Ardika menemaniku, dengan sibuk menyodorkan handphone dan memberitahuku kalau radio kampus sedang siaran.

Jujur, kami bertiga tidak tertarik dengan radio kampus juga tak pernah mendengarkannya tiap kali siaran, jadi mendapati Keana sibuk menaruh ponsel di tengah-tengah meja yang kami tempati, menyetel volume dengan pas, membuatku lantas mengernyit.

“Sejak kapan lo suka dengar radio kampus?”

Ardika mendelik. “Sejak dia tau guest star hari kakak lo, sama Presiden BEM.”

“Serius? Kak Dimitri sama Cici ikut siaran, atas dasar apa?” tanyaku bingung, lagipula bukankah hubungan mereka tidak baik-baik saja?

“Tukar pikiran bersama mantan kali?” Omongan Ardika dibalas pukulan oleh Keana. “Yaudah iya, aku selalu salah, aku mengeluh dengan hidup ini!” lanjutnya sembari meringis. Aku ingin tertawa, tapi tak kuasa karena tiba-tiba hatiku terasa berat mendengar kalimat Ardika sebelumnya. Buru-buru kutepis perasaan itu jauh-jauh.

“Sotoy lo, kecebong! Cici diundang karena baru pulang exchange, kalau Kak Dimitri … no idea!” jelas Keana, sebagai salah satu biang gosip kampus, aku takjub bagaimana Keana selalu up to date tentang segala hal. Setelah kami bertiga berubah hening dan lagu dari siaran radio berakhir, penyiar perempuan bersuara riang membuka sesi curhat—yang curhatannya berasal dari kiriman mahasiswa-mahasiswi kampus.

“Inbox pertama masuk, nih. Saya bacain, ya. _Uhm, halo. Saya mahasiswa tingkat dua, rencananya mau mengajukan aplikasi buat exchange tapi masih ragu dan ada banyak pertimbangan ternyata. Kak Gladys, kalau boleh tau motivasinya apa,